Senin, 22 Desember 2014

Inilah Tips2 Menjaga Kesehatan Di Musim Hujan


Naaah para saudaraku sekalian sekarang admin mau bagi2 artikel nih, tentang menjaga kesehatan di musim hujan menurut muslim.or.id yuk di baca dulu artikelnya :D
Saat ini di Indonesia sudah memasuki musim hujan. Hari – hari sering diguyur hujan yang berlangsung cukup lama, bahkan di beberapa daerah sampai menimbulkan banjir. Datangnya musim hujan merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit. Beberapa jenis penyakit meningkat kejadiannya saat musim hujan tiba. Hendaknya kita bisa menjaga kesehatan agar tetap sehat selama musim hujan.

Waspadai Penyakit di Musim Hujan

Ada beberapa penyakit yang meningkat kejadiannya saat musim hujan tiba. Penyakit yang perlu diwasapdai antara lain penyakit infeksi seperti infeksi saluran nafas, influenza, diare, dan penyakit kulit yang bisa menyerang siapa saja. Selain itu, daerah yang terkena banjir perlu mewaspadai timbulnya penyakit leptospirosis.Sedangkan penyakit yang harus diwaspadai pasca hujan adalah penyakit demam berdarah yang mungkin ditimbulkan akibat nyamuk Aedes Aegypti yang bersarang dari sisa-sisa genangan air hujan. Di musim hujan juga sering muncul penyakit akibat jamur yang terutama disebabkan akibat kelembaban pada pakaian. Selain penyakit menular, ada juga penyakit tidak menular yang sering memburuk dengan cuaca hujan dan dingin seperti asma, rhinitis, dan penyakit kronik lainnya.
Oleh karena itu masyarakat diminta menjaga kesehatan diri dan lingkungan agar meminimalisir risiko terkena penyakit di musim hujan. Berikut adalah beberapa langkah agar Anda terhindar dari penyakit di musim hujan :
1. Sedia Payung Sebelum Hujan
Pepatah di atas memang benar. Cara yang paling efektif agar tidak terserang sakit selama musim hujan adalah dengan memakai perlengkapan pelindung dari hujan seperti payung, jas hujan atau jaket bertudung, dan sepatu tahan air saat Anda ke luar rumah ketika hujan tiba. Usahakan memakai pelindung hujan ketika Anda beraktifitas di luar saat hujan turun agar Anda tidak basah kuyup dengan air hujan yang dapat berisiko menyebabkan Anda sakit.
2. Segera Mandi Setelah Kehujanan
Sekilas, saran ini tampaknya tidak masuk akal. Namun mandi segera setelah basah kuyup oleh hujan benar-benar masuk akal dan sangat bermanfaat. Penyakit dapat muncul ketika tubuh Anda mengalami perubahan suhu yang drastis. Mandi dengan segera akan menstabilkan temperatur dingin yang terbawa oleh air hujan sekaligus membersihkan tubuh Anda dari kuman dan kotoran. Saat Anda mengeringkan badan, temperatur tubuh bertahap kembali ke suhu normal. Selanjutnya hangatkan diri Anda dengan minum teh hangat atau makan kuah hangat.
3. Olahraga Rutin Jangan Ditinggalkan
Tetap lakukan olahraga rutin meskipun hujan turun. Walaupun olahraga outdoor jadi berkurang intensitasnya karena cuaca yang tidak bersahabat, Anda bisa mencoba aneka olahraga yang bisa dilakukan secara indoor, seperti senam aerobik, sit uppush up, atau skipping (lompat tali). Olahraga yang teratur akan sangat baik untuk menjaga stamina tubuh Anda.
4. Menjaga Kebersihan Tangan
Menurut peneliti medis, cara terbaik kuman masuk ke tubuh kita adalah melalui tangan kotor. Kita menggunakan tangan kita di hampir setiap kegiatan, sehingga berbagai macam kuman dapat dengan mudah masuk ke tubuh kita setiap saat. Untuk menjaga diri agar tetap terlindung, bersihkan tangan Anda secara teratur. Pastikan Anda senantiasa ‘higienis’ sepanjang hari. Cuci tangan Anda setiap sebelum makan, sehabis dari toilet, dan setelah melakukan kegiatan apapun. Hindari menyentuh wajah Anda dengan tangan yang kotor, karena penelitian mengatakan bahwa kuman biasanya masuk lewat hidung atau mulut Anda.
5. Minum Air yang Cukup
Saat musim hujan, cuaca dingin membuat Anda tidak merasa haus dan malas untuk minum. Padahal tubuh kita tetap memerlukan cairan setiap harinya. Pastikan Anda tetap minum air yang cukup selama musim hujan. Minum air merupakan bentuk tidak langsung dari pencegahan untuk segala macam penyakit. Minum air yang cukup dapat mengganti kehilangan cairan tubuh Anda sehingga Anda tidak mengalami dehidrasi. Air juga membersihkan kuman melalui sistem saluran kencing, sehingga mencegah infeksi saluran kencing.
6. Cukup Istirahat
Kurang tidur akan membuat stamina Anda berkurang. Waktu tidur yang ideal adalah 6-8 jam per hari. Atur waktu aktifitias harian Anda sehingga Anda bisa cukup istirahat sehingga tubuh Anda tetap fit dan dapat beraktifitas secara maksimal..
7. Mengatur Pola Makan
Jaga pola makan Anda. Makan teratur dan tepat waktu dengan komposisi yang lengkap akan senantiasa menjaga vitalitas Anda. Hindari makan di tempat penjualan makanan yang kurang terjaga kebersihannya. Penuhi juga kebutuhan vitamin dan mineral dari berbagai macam sayur dan buah-buahan. Kalau perlu, tambah dengan pemberian multivitamin.
8. Memakai Pakaian yang Kering
Cucian yang tak mau kering adalah kendala di musim hujan, karena matahari seakan tak mau bersinar. Meski begitu, cari cara agar cucian Anda bisa kering sepenuhnya. Pakaian yang lembab berarti masih menyimpan air dan bisa jadi sarang bagi kuman penyakit.
Jangan lupa untuk selalu menyiapkan obat-obatan ringan di rumah, untuk mencegah terjangkitnya penyakit-penyakit musim hujan di atas. Nah, sudahkah Anda mempersiapkan pencegahan dari penyakit di musim hujan?. Semoga tulisan ini bermanfaat dan membantu agar kita semua bisa menjaga kesehatan dan terhindar dari penyakit di musim hujan.

Sumber : muslim.or,id

Minggu, 16 November 2014

Ternyata Al-Qur’an Telah Menjelaskan Hujan Sebelum Sains


Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat. Hujan–yang memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia–disebutkan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.
Informasi ini, yang tidak mungkin diketahui manusia di zamannya, menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Allah. Sekarang, mari kita kaji informasi-informasi tentang hujan yang termaktub di dalam Al-Qur’an.
Kadar Hujan
Di dalam ayat kesebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini:

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf, (43):11)

“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.
Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan. Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.

Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun,  kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan krtika mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).

Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400oC di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.
Pembentukan Hujan
Bagaimana hujan terbentuk tetap menjadi misteri bagi manusia dalam kurun waktu yang lama. Hanya setelah ditemukannya radar cuaca, barulah dapat dipahami tahapan-tahapan pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, “bahan mentah” hujan naik ke udara. Kemudian terkumpul menjadi awan. Akhirnya, tetesan-tetesan hujan pun muncul.
Tahapan-tahapan ini secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad tahun lalu sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan:
“Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat  hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum, (40):48)
Sekarang, mari kita lihat pada tiga tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Tahap Pertama: “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”
Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini –yang kaya akan garam– kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan “JebakanAir”) di sekelilingnya.
Tahap  Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”

Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.

Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat  hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”

Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya.

Sumber : http://id.harunyahya.com

BAB Duduk Ternyata Berbahaya dan Tidak di Anjurkan Oleh Nabi~


Beberapa hal yang mungkin pernah kita hiraukan dan sepelekan, dimana kebiasaan yang kita lakukan tanpa mengetahui manfaat dan mudharat yang akan kita dapatkan, hal ini berkaitan dengan sunnah dari Rasulullah SAW  yang sering kita lupakan,,

1. BAB duduk, beresiko tinggi terkena wasir/
ambeien.
BAB jongkok lebih bersih dan menyehatkan —> dan yg terpenting itu adalah
SUNNAH.

2. Kencing berdiri resiko prostat dan batu ginjal.
Kencing jongkok lebih bersih dan menyehatkan.
—> yg terpenting itu adalah SUNNAH.

3. Enzim di tangan membantu makanan lebih mudah dicerna. Bilamana dibanding dengan besi, kayu, atau plastik, makan dengan tangan lebih bersih, fitrah dan menyehatkan. —> yg terpenting itu adalah SUNNAH.

4. Makan dan minum berdiri mengganggu
perncernaan.
Dengan duduk lebih santun dan
menyehatkan. —> yg terpenting itu adalah
SUNNAH.

5. Makan di kursi, masih kurang menyehatkan.
Dengan duduk dilantai, tubuh akan membagi
perut menjadi 3 ruang: udara, makanan dan
air. —> yg terpenting itu adalah SUNNAH.

6. Makan buah setelah makan (cuci mulut)
kurang bagus bagi lambung, karena ada reaksi asam.
Yang sehat adalah makan buah sebelum
makan, membantu melicinkan saluran
pencernaan dan membuatnya lebih siap. —>
yg terpenting itu adalah SUNNAH.

7. Tengkurep & terlentang tidak bagus untuk kesehatan. Tidur menghadap kanan lebih
menyehatkan. —> yg terpenting itu adalah
SUNNAH.

8. Banyak Rahasia Sunnah yg telah diteliti para pakar, dari segi hikmah, manfaat, dan
kesehatan.
Benarlah yg dikatakan : dibalik sunnah ada kejayaan.
Bagi kita, jika misalnya
belum tau manfaatnya, terus saja semangat
mengikuti adab dan tuntunan Rasul.
Manfaat itu efek samping, motivasi utamanya adalah
mengikuti adab dan tuntunan Rasul.

9. Seorang dokter Eropa berkata : jika semua
manusia amalkan 3 sunnah saja (sunnah
makan, sunnah di Kamar Mandi, sunnah tidur),
maka harusnya saya berhenti jadi dokter karna tidak ada pasien.

Mari kita semua amalkan, 24 jam hidup dengan sunnah. Bahkan tidur lelap, setiap detiknya
akan dianggap dzikir jika sesuai dengan sunnah.
“Barang siapa menghidup- hidupkan sunnahku,
dia cinta kepadaku. Barang siapa cinta
kepadaku, bersamaku di dalam surga”
SubhanAllah,,,
“semoga Allah ilhamkan kepada kita dan
keluarga kesenangn dalam mengikuti berbagai sunnah Nabi Muhammad Saw… Aamiin”.

Sumber : http://yuantci.wordpress.com

Nih ciri-ciri kalo anda memang menuntut ilmu dengan ikhlas~



Menuntut ilmu adalah sebuah ibadah yang sangat mulia. Ilmu adalah kunci pembuka untuk amalan-amalan lainnya. Karena dengan ilmu, seorang hamba bisa mengetahui bagaimana seharusnya dia beribadah kepada Rabb-nya, mengetahui apa saja kewajiban yang harus ia jalankan, serta mengetahui apa saja larangan yang harus ia jauhi. Oleh karena itulah,  keikhlasan dalam menuntut ilmu adalah suatu hal yang harus terus dijaga oleh kita semua agar ibadah yang sangat mulia ini tidak menjadi debu yang berhamburan di sisi Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan agama kepada-Nya” (QS. Al Bayyinah : 5)

Tanda Ikhlas dalam menuntut ilmu

Keikhlasan dalam menuntut ilmu akan memberikan pengaruh kepada pribadi orang tersebut yang dapat dirasakan oleh orang yang berada di sekitarnya. Di antara tanda-tanda ikhlas dalam menuntut ilmu adalah sebagai berikut :

1- Membuahkan ilmu yang bermanfaat.

Tanda paling jelas yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ
“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah utus diriku dengan membawa keduanya sebagaimana permisalan hujan lebat yang membasahi bumi. Diantara tanah yang diguyur air hujan, ada tanah yang subur, yang menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan yang lebat” (HR. Bukhari)
Seperti itulah permisalan ilmu yang bermanfaat bagi seorang hamba. Ilmu tersebut akan memberikan manfaat kepada pemiliknya khususnya, dengan membuat hatinya semakin lembut, jiwanya semakin tunduk kepada Rabb-nya, lisan dan pandangannya semakin terjaga, dan seterusnya. Tidak hanya itu, manfaat ilmunya juga meluas kepada orang-orang di sekitarnya dengan akhlaknya yang semakin mulia serta ilmu yang telah ia raih ia ajarkan kepada orang-orang di sekelilingnya.
Inilah tanda yang pertama yang menjadi poros bagi tanda-tanda lainnya, ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya.

2- Mengamalkan ilmu

Ilmu dicari untuk diamalkan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala akan bertanya kepada semua orang yang telah belajar, apa yang telah mereka amalkan dari ilmu yang ia miliki?
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ … وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki hamba di hari kiamat sampai ia ditanya,(salah satunya) tentang ilmunya, apa yang sudah dia amalkan?” (HR. Tirmidzi, beliau nilai hasan shahih. Dan dinliai shahih oleh Al Albani)

Ketika seseorang memiliki niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu, maka ia akan mengerti bahwa ilmu yang ia cari bukanlah tujuan akhir, tetapi bekal dia untuk beramal sehingga ia akan berusaha mengamalkan setiap ilmu yang ia miliki. Adapun orang yang niatnya rusak, maka mengamalkan ilmu bukanlah tujuan yang hendak ia capai. Oleh  karena itu, Al Khatib Al Baghdadi rahimahullah mengatakan, “Seseorang tidak dianggap berilmu selama ia tidak mengamalkan ilmunya” (Iqtidhaa-ul ‘Ilmi Al ‘Amal hal. 18, dinukil dari Tsamaratul ‘Ilmi Al ‘Amal, hal. 45)

3- Terus memperbaiki niat

Orang yang merasa telah ikhlas dalam menuntut ilmu merupakan ciri tidak ikhlasnya ia dalam menuntut ilmu. Orang yang ikhlas justru terus memperbaiki dirinya dan meluruskan niatnya dalam setiap amalannya dan tidak merasa dirinya telah ikhlas. Sebagaimana yang dikatakan ‘Amr, “Barangsiapa yang mengatakan dirinya adalah orang yang berilmu, maka dia adalah orang yang bodoh”. Ibnu Rajab mengatakan, “Orang yang jujur akan merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan dan takut mengalami su-ul khatimah” (lihat Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hal. 30-31)

4- Semakin tunduk dan takut kepada Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu” (QS. Fathir : 28)
Pada ayat di atas Allah menyebutkan bahwa orang yang takut kepada-Nya adalah orang yang berilmu. Oleh karena itu, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin tunduk ia kepada Rabb-nya. Sebagian ulama mengatakan, “Siapa yang takut kepada Allah maka dia adalah orang yang berilmu. Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang bodoh” (dinukil dari Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf hal. 26).
Ini adalah buah dari ilmu yang bermanfaat, ilmu yang dicari semata-mata karena mengharap wajah-Nya. Seseorang yang telah berilmu tentang Allah, maka ia akan mengetahui keagungan dan kebesaran Rabb-nya sehingga ia akan semakin takut dan tunduk kepada-Nya serta selalu merasa diawasi oleh-Nya.

5- Membenci pujian dan ketenaran

Senang dipuji dan cinta ketenaran adalah awal malapetaka pada diri seorang penuntut ilmu. Tidakkah kita ingat kisah tiga orang yang pertama kali diseret ke dalam neraka? Rasulullah menyebutkan salah satu diantara mereka,
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“Seseorang yang menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al Qur’an. Lalu ia didatangkan dan dipaparkan kepadanya segala nikmat yang telah ia raih, lantas ia mengakuinya. Lalu ia ditanya, “Apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat tersebut?”. Ia menjawab, “Aku menuntut ilmu juga mengajarkannya, aku juga membaca Al Qur’an karena-Mu”. Lalu dikatakan padanya, “Kamu dusta! Kamu itu menuntut ilmu supaya dijuluki sebagai orang yang berilmu! Kamu juga membaca Al Qur’an karena ingin dikenal sebagai qari! Dan kamu pun telah mendapatkannya!”. Lalu orang tadi diseret di atas wajahnya lalu dilempar ke neraka” (HR. Muslim)

6- Semakin tawadhu’ di hadapan manusia

Bagai ilmu padi, ilmu yang bermanfaat yang dicari semata-mata mengharap wajah Allah Ta’ala akan membuat pemiliknya semakin tawadhu’ di hadapan orang lain, tidak merasa lebih hebat dibandingkan orang lain. Ibnu Rajab mengatakan, “Di antara tanda orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat adalah ia tidak memandang dirinya memiliki status atau kedudukan khusus. Hatinya membenci rekomendasi dan sanjungan orang. Ia juga tidak takabbur di hadapan orang lain” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hal. 31)

 Nasihat Penutup

Itulah di antara sedikit tanda-tanda lurusnya niat seseorang dalam menuntut ilmu. Sebagai penutup, kami bawakan sebuah nasihat indah dari Imam Al Ghazali rahimahullah teruntuk kita semua. Beliau mengatakan, Betapa banyak malam yang telah kau hidupkan dengan mengulang-ngulang ilmu dan membaca berbagai macam buku, dan kau halangi dirimu dari tidur? Aku tidak tahu apa yang memotivasimu untuk berbuat demikian. Jika niatmu adalah karena dunia, karena mencari harta dan mengumpulkan bagian-bagian dunia, atau berbangga-bangga dengan teman sepantaranmu, maka celakalah dan celakalah dirimu! Tapi jika niatmu adalah menghidupkan syari’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, membina akhlakmu, dan mematahkan jiwa yang suka mengajak kepada keburukan, maka beruntunglah dan beruntunglah engkau!” (Ihya ‘Ulumuddin, hal. 105-106, dinukil dari Adabu Thalibil ‘Ilmi, hal. 35)

Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat kepada penulis khususnya dan kepada kaum muslimin umumnya. Hanya kepada Allah-lah kita semua memohon keikhlasan dalam setiap ucapan dan amalan.

Ya Allah, jadikanlah seluruh amalan kami sebagai amalan yang shalih, dan jadikanlah amalan kami tersebut ikhlas mengharap wajah-Mu semata, dan janganlah Engkau jadikan sedikitpun bagian untuk selain diri-Mu dalam amalan kami tersebut. Sesungguhnya Engkau Maha mendengar seruan hamba-Mu.

Rabu, 12 November 2014

Tips Mendidik Anak Supaya Bisa Berpuasa



Nah teman-teman kali ini kita akan sedikit membahas tentang bagaimana cara untuk melatih anak supaya mereka pintar berpuasa. Seperti yang di sampaikan oleh muslim.or.id, bahwa kebiasaan mendidik anak hingga bisa berpuasa ternyata sudah dicontohkan oleh para sahabat di masa silam.
Naah untuk kejelasannya mari kita simak baik2 bahasan kita kali ini.
Let's Go :D

عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَتْ أَرْسَلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ « مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ » . قَالَتْ فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا ، وَنَجْعَلُ لَهُمُ 
اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ ، حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ

“Dari Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seseorang ke salah satu suku Anshar di pagi hari Asyura.” Beliau bersabda, “Siapa yang di pagi hari dalam keadaan tidak berpuasa, hendaklah ia berpuasa. Siapa yang di pagi harinya berpuasa, hendaklah berpuasa.” Ar Rubayyi’ mengatakan, “Kami berpuasa setelah itu. Lalu anak-anak kami pun turut berpuasa. Kami sengaja membuatkan mereka mainan dari bulu. Jika salah seorang dari mereka menangis, merengek-rengek minta makan, kami memberi mainan padanya. Akhirnya pun mereka bisa turut berpuasa hingga waktu berbuka.” (HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)
Ibnu Batthol menjelaskan bahwa para ulama sepakat, ibadah dan kewajiban barulah dikenakan ketika telah baligh (dewasa). Namun kebanyakan ulama sudah menyunnahkan (menganjurkan) mendidik anak untuk berpuasa sejak kecil, begitu pula untuk ibadah lainnya. Hal ini untuk keberkahannya dan agar membuat mereka terbiasa sejak kecil, sehingga semakin mudah mereka lakukan ketika telah diwajibkan.

Al Muhallab berpandangan, hadits ini mengandung pelajaran bahwa siapa saja yang mengajak anak untuk melakukan ketaatan pada Allah, mengajak mereka untuk konsekuen dalam menjalankan ibadah, mereka itu akan diberi pahala lantaran hal itu. Kesulitan ketika mengharuskan mereka untuk melakukan seperti itu tidak membuat mereka sulit.

Ibnul Mundzir berkata bahwa para ulama berselisih pendapat dalam hal kapan anak diperintah untuk berpuasa. Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin, ‘Urwah, ‘Atho’, Az Zuhri, Qatadah, Imam Syafi’i berpandangan bahwa mereka diperintah puasa ketika mereka sudah mampu. Al Auza’i memiliki pandangan bahwa mereka dikenakan kewajiban puasa ketika mereka sudah mampu berpuasa tiga hari berturut-turut dan tidak merasa lemas ketika itu. (Syarh Al Bukhari li Ibni Batthol, 7: 125).

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits di atas menunjukkan perintah untuk melatih anak dalam melakukan ketaatan dan mendidik mereka untuk beribadah. Akan tetapi, mereka tetap masih belum terbebani syariat atau belum mukallaf. Sedangkan Al Qadhi mengatakan bahwa telah terdapat riwayat dari Urwah, ketika telah mampu puasa, anak sudah wajib puasa. Namun pernyataan jelas keliru karena bertentangan dengan hadits shahih yang menyatakan, “Pena diangkat dari tiga orang (di antaranya), dari anak kecil hingga ia ihtilam (baligh).” Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 8: 15).

Kalau dalam hadits di atas mereka diberi hiburan mainan sehingga terlena bermain lantas mereka menyempurnakan puasanya.

Tips lain yang bisa dilakukan adalah mengajak anak makan sahur bersama keluarga agar memiliki energi untuk berpuasa. Menu makan sahur pun diusahakan dibuat yang mengandung lemak dan tambahan susu. Kalau mereka sudah mau berpuasa, maka berilah pada mereka motivasi dan penghargaan, apalagi bila sudah berhasil berpuasa satu hari penuh. Penghargaan tidak harus berupa tambahan uang saku tapi bisa juga dengan memberikan menu spesial kesukaan anak saat berbuka. Tips terakhir, berbuka puasa dipilih dengan yang manis-manis karena bisa mengembalikan energi pada anak, semisal dengan kurma dan teh manis hangat.

Nah Sudah tau kan bagaimana cara mendidik anak supaya bisa berpuasa ?
Semoga Bermanfaat yaa ;)


Sumber : muslim.or.id

Senin, 10 November 2014

Wow Tidur Siang Itu Ternyata ....

Tidur siang ? Apakah Baik untuk Kesehatan ? Dan apakah benar itu sunnah  ? Banyak orang mengatakan bahwa tidur siang itu menggambarkan sikap pemalas tapi pada dasarnya tidur siang itu adalah salah satu sunnah rasul, seperti yang di kutip oleh www.alquran-sunnah.com bahwa tidur siang itu baik loh gan coba kita langsung ke penjelasan berikut.

Definisi Qoilulah

Al-Qoilulah berasal dari kata Qoola, Yaqiilu, Qoilan, wa Qoo-ilatan, wa Qoilulatan, wa Maqoolan, wa Maqiilan.Para ahli bahasa mendefinisikannya dengan tidur di siang hari. Atau istirahat di siang hari, meskipun tidak dibarengi dengan tidur. (an-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, juz 4, hlm 116-117, Lisanul ‘Arab, juz 11, hlm 688-689)
Abdullah bin Rowahah radhiyallahu ‘anhu, salah seorang penyair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam sebuah bait syairnya:

اليَوْمَ نَضْرِبْكُمْ عَلَى تَنْزِيْلِهِ      ضَرْباً يُزِيْلُ الهَـامَ عَنْ مَقِيْلِهِ
Hari ini kami pukul (kalahkan) kalian dengan ayat-Nya
Laksana pukulan yang melenyapkan kantuk dari tidur siangnya
Padahal dalam agama Islam, istilah yang satu ini tidak asing lagi di telinga para ulama dan para penuntut ilmu. Begitu banyak kitab-kitab yang menyebutkan hadits tentang qoilulah dan membahasnya. Didukung dengan beberapa hadits dan atsar sahabat yang lebih memperjelasnya. Bahkan dalam sebuah ayat al-Qur’an, Allah telah mengisyaratkan tentangnya (lihat pula surat al-Furqon: 24). Allah ta’ala berfirman:

وَكَمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا فَجَاءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا أَوْ هُمْ قَائِلُوْنَ
“Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari.” (QS. al-A’rof: 4)
Ibnu Katsir rahimahullah bertutur: Yakni dari kata al-Qoilulah, yang berarti tidur tengah hari. Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata: Al-Qoilulah adalah tidur tengah hari. Ada juga yang berpendapat, hanya sekedar istirahat di waktu tersebut lantaran panas yang berlebihan, tanpa dibarengi dengan tidur. (Tafsir Ibnu Katsir dan Fathul Qadir, surat al-A’rof: 4)

Qoilulah Adalah Sunnah

Qoilulah adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pernyataan tersebut dapat kita simpulkan setelah kita membaca hadits dan atsar yang dengan jelas memerintahkan kepada kita untuk mengerjakan qoilulah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قِيْلُوْا، فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ
Tidur sianglah kalian, sebab setan itu tidak tidur siang. (Hadis hasan. Lihat ash-Shahihah, no. 1647, Shahihul Jami’, no. 4431)
Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Hadits tersebut memiliki bukti penguat riwayat mauquf (terhenti hanya pada sahabat) yang dikeluarkan oleh Ibnu Nashr dalam kitab Qiyamul Lail, halaman 40. Dari Mujahid rahimahullah: Tatkala sampai kepada Umar radhiyallahu ‘anhu sebuah kabar bahwa seorang pekerjanya tidak tidur siang, Umar mengirim surat kepadanya: “Amma ba’du, tidur sianglah engkau, karena setan itu tidak tidur siang.”
Komentar Syaikh al-Albani rahimahullah: “Atsar tersebut, meskipun mauquf, namun pernyataan seperti ini tidak mungkin diucapkan begitu saja dari akal pikiran. Bahkan, padanya terdapat petunjuk, bahwa hadits ini telah tenar di kalangan mereka. Oleh sebab itu, Umar radhiyallahu ‘anhu tidak perlu lagi berterus-terang mengatakan akan marfu’-nya riwayatnya itu. (Lihat: ash-Shahihah, penjelasan hadits no. 1647)
Sunnah qoilulah ini tidak hanya sebatas ucapan pada lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Bahkan beliau sendiri pernah tidur qoilulah. Kabar ini pernah diceritakan oleh Anas bin Malik rahimahullah.
Ia berkata: “Ummu Harom bercerita kepadaku, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari pernah tidur siang di rumahku. Lalu beliau terbangun dari tidurnya seraya tertawa. Ummu Harom bertanya: Wahai Rasulullah, mengapa engkau tertawa? Beliau menjawab: Aku merasa takjub terhadap suatu kaum dari umatku yang mengarungi lautan, (mereka) bagaikan raja di atas singgasananya. Ummu Harom berkata: Wahai Rasulullah, mohonlah kepada Allah, agar aku termasuk dari kaum itu. Beliau bersabda: Engkau termasuk dari mereka.” (HR. al-Bukhari, no. 2788, 2789, 2799, 2877, 2894, 2895, 6282, 7001)

Waktu Pelaksanaan Qoilulah

Para sahabat dahulu mengerjakan qoilulah setelah pelaksanaan shalat zhuhur/jumat. Hal ini pernah ditegaskan oleh Anas bin Malik dan Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhuma.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berucap: “Kami dahulu bersegera pergi ke shalat jum’at, kemudian kami tidur siang setelah mengerjakan shalat jum’at.” (HR. al-Bukhari, No. 905 & 940.)
Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami dahulu tidak tidur qoilulah dan tidak makan siang, melainkan setelah mengerjakan shalat jum’at.” Dalam riwayat lain ia berkata: “Kami dahulu mengerjakan shalat jum’at bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian baru tidur siang.” (HR. al-Bukhari, no. 939, 941, 2349, 5403, 6248, dan Muslim, no. 859.)
Di sisi lain, mereka juga terkadang tidur qoilulah sebelum pelaksanaan shalat. Yang demikian mereka kerjakan, jikalau panas siang hari begitu menyengat dan berlebihan. Tujuannya adalah untuk menunggu turunnya suhu udara yang terlalu panas hingga terasa agak dingin. Sehingga, mereka dapat melaksanakan shalat zhuhur dengan khusyu’.
Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Bahwasanya sahabat mengerjakan shalat terlebih dahulu sebelum tidur siang. Hal ini menyelisihi kebiasaan mereka dalam mengerjakan shalat zhuhur ketika panas begitu menyengat. Yang mana mereka melakukan tidur siang terlebih dahulu, setelah itu baru mengerjakan shalat zhuhur. Alasannya, menunggu suhu udara hingga terasa dingin merupakan perkara yang disyariatkan. (Fathul Bari, juz 2, hal. 493)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا اشْتَدَّ الحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلاَةِ، فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ
“Apabila suhu udara terlalu panas, maka tundalah pelaksanaan shalat hingga udara terasa dingin. Karena sesungguhnya panasnya udara merupakan hembusan Jahannam.” (HR. al-Bukhari, no. 533, 534, 535, 536, 538, 539)
Khalid bin Dinar rahimahullah berkata: “Aku pernah mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu apabila udara dingin, beliau menyegerakan pelaksanaan shalat. Dan apabila udara terasa panas, beliau menunda pelaksanaan shalat hingga udara terasa dingin.” (HR. al-Bukhari, no. 906)
Dari keterangan singkat di atas, dapat kita simpulkan bahwa qoilulah merupakan salah satu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sudahkah anda menerapkannya?

 Keutamaan Qoilulah

Sebagaimana kita ketahui bahwa qoilulah adalah sunnah. Apabila kita meneliti lebih mendalam, maka terdapat beberapa keutamaan sunnah qoilulah yang bersumber dari al-Qur’an, as-Sunnah, dan riwayat para sahabat Rasulullah. Maka itu, begitu penting bagi kita untuk mengetahui beberapa keutamaan tersebut. Pembahasan seputar hal ini dapat disimak pada beberapa poin berikut ini. Semoga bermanfaat.
    Adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Qoilulah merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Orang yang melakukan qoilulah berarti ia telah menghidupkan salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dalam hal ini kami katakan, beramal sedikit namun sesuai sunnah, tentu jauh lebih baik dari pada beramal banyak namun semuanya bid’ah.
Sepertinya sunnah ini adalah biasa –meskipun pada hakekatnya tidak ada sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa, semuanya adalah utama, tidak ada istilah kulit dan isi dalam agama-. Namun, jangan sekali-kali kita meremehkan salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meremehkan sunnahnya berarti meremehkan agama. Menganggapnya tak bernilai, berarti mengganggap agama ini tak ada nilainya. Semoga Allah merahmati seorang hamba, yang senantiasa menghidupkan sunnah Nabi-Nya.
    Merupakan istirahatnya penduduk surga
Allah ‘azza wa jalla berfirman:
أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلاَ
“Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat qoilulahnya/istirahatnya.” (QS. al-Furqan: 24)
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pada waktu dhuha, wali-wali Allah istirahat di atas ranjang tidur bersama bidadari.”
Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Allah selesai menghitung amalan manusia di pertengahan hari, lalu penghuni surga istirahat tengah hari di dalamnya.”
Ikrimah rahimahullah bertutur: “Sungguh, aku tahu kapan penghuni surga masuk ke dalam surga dan penghuni neraka masuk ke dalam neraka, yaitu seperti waktu di dunia ketika terangkatnya waktu dhuha akhir, tatkala orang-orang kembali kepada keluarga mereka untuk istirahat. Maka penghuni neraka kembali ke neraka. Adapun penghuni surga, maka mereka dipindahkan ke surga, dan tempat istirahat siang mereka adalah surga.”
Dalam menafsirkan firman Allah, “dan paling indah tempat qoilulahnya” Imam asy-Syaukani  rahimahullah berkata: “Yaitu tempat istirahat siangnya.”
Syaikh Abdurrahman bin nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Tempat tinggal mereka di surga dan istirahat mereka yang berupa istirahat siang, merupakan tempat tinggal bermanfaat dan istirahat yang sempurna, yang mana hal itu merupakan kesempurnaan nikmat yang tidak akan tercemari oleh kotoran.” (Periksa atsar-atsar tersebut di Tafsir Ibnu Katsir dan Fathul Qadir. Lihat juga Tafsir as-Sa’di,surat al-Furqan: 24)
Catatan
Qoilulah pada poin ini lebih sesuai jika diartikan dengan istirahat siang atau istirahat tengah hari, bukan diartikan dengan tidur siang. Sebab tidak ada tidur di dalam surga, dan penduduk surga tidak akan tidur di dalamnya.
Rasulullah rahimahullah bersabda:

النَّوْمُ أَخُوْ المْـَوْتِ وَلاَ يَنَامُ أَهْلُ الْـجَنَّةِ
“Tidur adalah saudaranya mati, dan penghuni surga tidaklah tidur.” (Lihat: ash-Shahihah, no. 1087)
Al-Azhari rahimahullah berkata: “Qoilulah atau Maqil menurut orang arab berarti istirahat di tengah hari, meskipun tidak dibarengi dengan tidur. Dalilnya adalah firman Allah, “dan paling indah tempat qoilulahnya“, sementara itu surga tidak ada tidur di dalamnya. (Faidhul Qadir, juz 4, hal. 694)
    Merupakan akhlak terpuji
Khowwat bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata: Tidur di permulaan hari adalah kebodohan, di pertengahannya adalah akhlak (terpuji), dan di akhir hari merupakan perbuatan dungu.  (Hadis shahih. Lihat: Shahih al-Adabul Mufrad, no. 942)
Khowwat bin Jubair bin Nu’man bin Umayyah merupakan salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saudara kandung Abdullah bin Jubair radhiyallahu ‘anhu. Wafat di Madinah pada tahun 40 H dengan usia 74 tahun. (Siyar A’lamin Nubala’, juz 2, hal. 329-330)
    Merupakan kebiasaan generasi terbaik umat ini
Generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, mereka begitu antusias dalam mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang tidak kalah ketinggalan adalah sunnah qoilulah. Banyak dari mereka yang melakukan qoilulah, demi meneladani dan melaksanakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pada tulisan selanjutnya yang berjudul Kisah Qoilulah Kaum Salaf, insyaAllah kami akan bawakan beberapa kisah tentang qoilulah para sahabat dan generasi setelahnya.
    Dapat membantu qiyamul lail dan lebih menyegarkan badan
Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah hafizhahullah berkata, setelah membawakan hadits tentang qoilulah: “Hadits tersebut mengandung perintah untuk mengerjakan qoilulah yang dapat menjadikan badan menjadi segar kembali, lebih kuat untuk mengerjakan ketaatan, dan dapat membantu melakukan qiyamul lail. Juga mengandung peringatan untuk menjauhi tipu daya setan. Wallahu A’lam. (Syarh Shahih al-Adabul Mufrad, juz 3, hal. 348)
Qoilulah sangat diharapkan untuk dikerjakan bagi orang yang hendak mengerjakan qiyamul lail dan begadang demi tujuan kebaikan. Sebab, yang demikian dapat membantu pelaksanaan shalat tahajjud, sebagaimana makan sahur dapat membantu pelaksanaan puasa di siang hari. (Faidhul Qadir, juz 4, hal. 694-695)
    Merupakan salah satu upaya untuk menyelisihi setan
Salah satu hadits yang menyatakan dengan jelas masalah ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قِيْلُوْا، فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ
“Tidur sianglah kalian, sebab setan itu tidak tidur siang.” (Hadis hasan. Lihat ash-Shahihah, no. 1647, Shahihul Jami’, no. 4431)
Hadits di atas menganjurkan kepada kita untuk melakukan tidur siang. Tujuannya agar kita tidak menyerupai setan yang tidak tidur di siang hari. Setiap muslim tentunya dituntut untuk menyelisihi setan dalam segala tindak-tanduknya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَأْكُلُوْا بِالشِّمَالِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِالشِّمَالِ
“Janganlah kalian makan dengan tangan kiri, sebab setan makan dengan tangan tersebut.”
Dalam sebuah riwayat disebutkan:

لاَ يَأْكُلَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِشِمَالِهِ، وَلاَ يَشْرَبَنَّ بِهَا، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِهَا
“Janganlah seorang dari kalian makan dan minum dengan tangan kiri, sebab setan makan dan minum dengan tangan kirinya.”
Nafi’ rahimahullah menambahkan: “Jangan pula ia menerima dan memberi dengan tangan itu.” (HR. Muslim, no. 2019, 2020)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum itu.” (Shahih. Lihat: Irwa’ul Ghalil, no. 1269, 2384)
Termasuk dalam hal ini, ber-tasyabbuh (menyerupai) perbuatan atau kebiasaan setan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Telah datang larangan untuk menyerupai setan, baik penampilan maupun perbuatannya, seperti makan dan minum dengan tangan kiri, sebab yang demikian termasuk perbuatan setan. Sementara itu kita dilarang untuk mengerjakan rutinitas apa saja yang termasuk perbuatan setan, karena sesungguhnya setan adalah tercela, baik secara agama maupun rasio. Dalam hal ini kami mengambil pelajaran dan merenungi, bahwa segala sesuatu yang menjadi sifat para pengekor setan dan orang sesat, dari kalangan orang-orang fasik, tukang maksiat, pelaku kriminal, mereka yang zhalim, munafik dan yang semisalnya, maka semua itu dilarang. Sebab mereka dihukumi sebagai pengekor setan. Sedangkan kita dilarang untuk mendekati jalan setan dan mengikuti perbuatannya. Maka wajib bagi setiap muslim yang komitmen dengan agamanya, untuk menjauhi segala sesuatu yang menjadi panji-panji mereka, para pengekor setan dan bala tentaranya. Harus lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan mereka. Menjauhi tempat-tempat berkumpulnya mereka. Sebab, tempat tersebut adalah gudang syubhat. Terlalu dekat dengannya, dapat menjadikan seorang muslim tercela.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim, juz 2, hal. 49)

Kisah Qoilulah Generasi Salaf

Berikut beberapa kisah qoilulah generasi terbaik umat ini.
1. Atsar Umar bin Khattab
Atsar ini telah kami bawakan pada tulisan sebelumnya. Adalah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, tatkala ia mendengar sebuah kabar, bahwa seorang pekerjanya tidak tidur siang, Umar mengirim surat kepadanya yang berisi: Amma ba’du, tidur sianglah engkau, karena setan itu tidak tidur siang.
As-Sa-ib pernah bercerita: “Adalah Umar radhiyallahu ‘anhu pernah melewati kami di tengah hari –atau mendekati tengah hari- lalu ia berkata: Bergegas tidur sianglah kalian, waktu yang tersisa biar untuk setan. (Shahih al-Adabul Mufrad, no. 939)
2.  Kisah qoilulah Ali bin Abi Thalib
Kisah ini berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang dipanggil dengan kunyah Abu Thurab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkunjung ke rumah Fatimah radhiyallahu ‘anha. Namun beliau tidak mendapatkan Ali berada di sana. Beliau bertanya: Dimana suamimu? Fatimah menjawab: Diantara kami ada sedikit masalah, sehingga ia marah kepadaku, lalu ia keluar dan tidak tidur siang di sisiku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seseorang: Coba lihat, dimana dia berada.
Setelah beberapa saat orang itu datang dan berkata: Wahai Rasulullah, dia sedang tidur di masjid. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Ketika itu, ia sedang tidur siang di masjid. Sementara selendangnya terjatuh dari badannya, dan debu pun menerpanya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membersihkan debu dari badannya seraya bersabda: Bangunlah wahai abu thurab, Bangunlah wahai abu thurab. (HR. al-Bukhari, No. 441, 3703, 6204, 6280, Muslim, no. 2409)
3. Atsar Ibnu Abbas
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bercerita, mengisahkan perjalanan dirinya dalam menuntut ilmu: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, aku berkata kepada seorang dari kaum Anshar: Kemarilah engkau, ayo kita bertanya kepada Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mumpung jumlah mereka saat ini masih banyak.
Orang itu berkata: Engkau ini aneh, ya Ibnu Abbas, apakah engkau mengira orang-orang nantinya akan membutuhkanmu? Sementara itu di tengah-tengah mereka masih ada sahabat dan orang-orang senior lainnya.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma melanjutkan: Orang itupun pergi, lalu aku mulai bertanya tentang hadits kepada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika sampai kepadaku kabar tentang hadits yang ada pada seorang sahabat, aku langsung pergi untuk mendatangi rumahnya. Tatkala itu ia sedang tidur siang, maka akupun berbaring dengan selendangku di depan pintu rumahnya, sampai-sampai debu beterbangan menerpa wajahku. Ketika keluar ia berkata: Wahai sepupu Rasulullah, apa tujuanmu datang kemari, mengapa engkau tidak mengirim utusan agar aku yang datang sendiri menemuimu?
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjawab: Aku lebih berhak untuk mendatangimu. Kemudian akupun bertanya seputar hadits kepadanya. Orang dari kaum Anshar itu ternyata masih hidup. Hingga akhirnya pada suatu saat ia melihatku, ketika orang-orang berkumpul di sekitarku untuk menimba ilmu dariku. Ia berucap: Pemuda ini ternyata lebih cerdas dari diriku.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga pernah berkata: Aku mendapati kebanyakan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada pada perkampungan dari kaum Anshar ini. Sungguh, aku dahulu pernah tidur siang di depan pintu rumah seorang dari mereka. Andai saja aku mau, pasti ia sudah mengizinkan aku untuk masuk. Namun, aku tidak akan melakukannya, supaya dia ridha dalam menyampaikan ilmunya. (Hilyatul ‘Alim al-Mu’allim wa Bulghatuth Thabil al-Muta’allim, hal. 26)
4. Atsar Abdullah bin Mas’ud
Dari as-Saib bin Yazid, dari Umar radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Terkadang beberapa orang Quraisy duduk-duduk di depan pintu rumah Ibnu Mas’ud radha. Tatkala matahari telah tergelincir beliau berkata: Bangkit dan tidur sianglah kalian, waktu yang tersisa biar untuk setan.
Kemudian tidaklah beliau melewati seseorang, melainkan ia menyuruhnya bergegas untuk mengerjakan tidur siang. (Shahih al-Adabul Mufrad, no. 939)
5. Atsar Anas bin Malik
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah berucap: Kami dahulu bersegera pergi ke shalat jum’at, kemudian kami tidur siang setelah mengerjakan shalat jum’at. (HR. al-Bukhari, no. 905 & 940)
6. Atsar Sahl bin Sa’ad
Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata: Kami dahulu tidak tidur (tengah hari) dan makan siang, melainkan setelah mengerjakan shalat jum’at.
Dalam redaksi yang lain disebutkan: Kami dahulu mengerjakan shalat jum’at bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian baru tidur siang. (HR. al-Bukhari, no. 939, 941, 2349, 5403, 6248, Muslim, no. 859)
7. Komenatar Khowwat bin Jubair
Khowwat bin Jubair radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: Tidur di permulaan hari adalah kebodohan, dipertengahannya adalah akhlak (terpuji), dan diakhir hari merupakan perbuatan dungu. (Shahih al-Adabul Mufrad, no. 942)
Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: Ucapannya, “dan di akhir hari merupakan perbuatan dungu“, pada hakekatnya, dungu adalah –sebagaimana di sebutkan di kitab an-Nihayah- meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, meskipun ia tahu bahwa itu adalah buruk. Dari sini dapat dipahami, adanya pujian bagi mereka yang mengerjakan tidur siang hari. (Shahih al-Adabul Mufrad, no. 942 pada catatan kaki)
8.  Komentar seputar qoilulah
Al-Khallal berkata: Dianjurkan tidur pada pertengahan hari.
Abdullah berkata: Ayahku dahulu selalu tidur tengah hari, baik musim
dingin maupun panas, ia tidak pernah meninggalkannya dan mengajakku untuk mengerjakannya. Beliau bertutur: Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: Tidur sianglah kalian, sebab setan itu tidak tidur siang.
Dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, Muhammad, ia berkata: Tidur tengah hari dapat menambah kecerdasan. Abdullah bin Syubrumah bertutur: Tidur tengah hari sebanding dengan minum obat. Sebagian orang bijak berkata: Rasa kantuk dapat menghilangkan kecerdasan, sedangkan tidur siang dapat menambah kecerdasan. (Al-Adab asy-Syar’iyyah, juz 3, hlm 146-148)

Naah itu mungkin sedikit penjelasan lebih mendalamtentang Tidur di siang hari Semoga Berkah ya :D

Penulis  : Abu Musa Al-Atsary (www.sulhan.net)
Sumber : http://www.alquran-sunnah.com

Kamis, 06 November 2014

Manfaat Sedekah



Manfaat Sedekah
Pada dasarnya ada tiga pihak yang mendapatkan manfaat dari sedekah. Pertama, orang yang mengeluarkan sedekah. Kedua, orang yang mendapatkan sedekah. Ketiga, masyarakat yang ada di sekitar orang yang bersedekah. Marilah kita teliti manfaat sedekah tersebut dari tiga sudut pandang.


Manfaat Sedekah Bagi Orang Yang Mengeluarkannya
Sebenarnya manfaat terbesar dari amal sedekah itu bukan orang yang menerimanya, tetapi justru orang yang mengeluarkannya. Orang yang mengeluarkan sedekah mendapatkan banyak manfaat dari sedekahnya. Di antara manfaat sedekah bagi pelakunya adalah sebagai berikut.

1. Sebagai Kesempurnaan Iman dan Islam
Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin yang artinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Karena itu, Islam bukan hanya mengajarkan bagaimana seorang muslim itu berhubungan dengan Tuhannya. Akan tetapi, islam juga mengajarkan bagaimana berhubungan baik dengan keluarganya, tetangganya, dan masyarakatnya. Rasa empati sosial dalam ajaran agama Islam bukan hanya dalam wacana-wacana kosong yang tanpa aplikasi. Akan tetapi, rasa empati sosial dalam Islam diwujudkan dengan tindakan-tindakan nyata, bukan sekedar pengakuan. Oleh karena itu, orang yang mengaku bertakwa ditantang oleh Allah untuk melakukan perbuatan sebagai bukti keimanan, keislaman, dan ketakwaannya. Jika perbuatan yang diperintahkan tersebut bisa dijalankan dengan baik, maka ia memang pantas disebut mukmin, muslim, dan muttaqin. Dalam Al-quran Allah berfirman: Kitab (Al-Quran) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS. Al-Baqarah: 2-3). Dalam ayat di atas disebutkan bahwa menafkahkan rejeki adalah termasuk tanda-tanda ketakwaan. Dalam ayat di atas disebutkan menafkahkan sebagian rejeki adalah memberikan sebagian dari harta yang telah direzekikan oleh Tuhan kepada orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain. Penjelasan bahwa menafkahkan rejeki termasuk dari ciri-ciri orang yang bertakwa juga dijelaskan oleh Allah di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 133-134. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dalam ayat di atas menginfakkan harta, yang salah satunya adalah dengan sedekah, adalah ciri pertama orang yang bertakwa. Allah memerintahkan meninfakkan harta bukan saja dalam keadaan senang akan tetapi juga dalam keadaan susah. Untuk bisa menginfakkan harta dalam segala keadaan dan suasana memang bukanlah sesuatu yang mudah. Ada orang yang di saat merasa senang, lega hatinya, dan tentram jiwanya tidak merasa berat untuk menginfakkan hartanya. Apalagi jika ia baru mendapat rejeki yang tidak diduga-duga. Memberikan sebagian hartanya bukanlah sesuatu yang berat. Namun ada pula orang yang merasa ringan untuk bersedekah dalam keadaan sulit. Atau mungkin malah saat nyawa baru sekarat ia baru ingat sedekah. Sementara ketika dalam keadaan sehat ia berat untuk memberikan sebagian hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan. Allah memerintahkan kita untuk menginfakkan sebagian rejeki bukan saja di saat dalam keadaan senang namun juga dalam keadaan susah. Masing-masing ada keutamaanya. Orang yang bersedekah saat dirinya dalam keadaan sehat dan mendambakan kekayaan akan memperoleh pahala yang agung. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan, Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sedekah seperti apakah yang pahalanya paling agung?” Beliau menjawab, “Kamu bersedekah pada saat kamu merasa sehat, merasa sayang kepada harta, takut menjadi fakir, dan mendambakan kekayaan. Janganlah kamu menunda sedekah hingga nyawamu sampai di tenggorokan. Lalu kamu berkata, “Untuk si A sekian, untuk si B sekian, dan untuk si C sekian.” Sabda Rasulullah di atas mengindikasikan betapa cerdasnya beliau. Beliau mengetahui bahwa saat orang dalam keadaan sehat dan memiliki harta maka ia akan merasa kurang terhadap hartanya tersebut. Meskipun ditangannya ada kekayaan namun hati dan jiwanya masih sangat haus harta dan menginginkan tambahan yang jauh lebih banyak. Orang yang dalam keadaan untuk mengeluarkan sedekah merasa berat. Ia merasa bahwa masih banyak kebutuhan-kebutuhan ekonominya yang harus dicukupi sehingga hal itu akan menjadi penghambat utama saat ia ingin bersedekah. Bersedekah dalam keadaan sangat membutuhkan, terutama pada saat pecekik juga sangat dianjurkan. Di dalam surat Al-Balad Allah berfirman: Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi Dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu, apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. (Al-Balad: 10-16). Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa memberikan makanan bagi anak yatim dan fakir miskin saat musim pacekik disamakan dengan ‘aqabah’. Aqabah adalah jalan yang berliku-liku, licin, dan sukar didaki yang ada di gunung. Artinya bisa memberikan sesuatu di saat diri sendiri sangat membutuhkan adalah sangat sulit. Oleh karena itu Allah menyebut mereka sebagai golongan kanan atau golongan yang berbuat kebajikan. Salah satu rukun Islam adalah membayar zakat. Zakat adalah bagian dari sedekah. Para ulama menamakan zakat sebagai sedekah wajib. Orang yang memiliki kelebihan harta tetapi enggan membayar zakat diancam oleh Allah dengan siksa yang pedih. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukan kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS At-Taubah: 34-35). Begitulah pedihnya azab yang harus diterima oleh orang yang enggan mengeluarkan zakat. Dan jika untuk mengeluarkan zakat. Dan jika untuk mengeluarkan zakat yang hukumnya wajib saja orang sudah enggan apalagi untuk mengeluarkan sedekah sunah.

2. Tanda Husnu Zhan kepada Allah
Setiap manusia memiliki kecenderung menyukai harta benda. Kecenderungan tersebut mendorongkannya untuk mencari apa yang belum dimiliki dan mempertahankan apa yang sudah ada ditangan. Bahkan kadang manusia melampaui batas sehingga ia mengganggap rejeki yang dimilikinya bukan berasal dari Allah namun dari kerja kerasnya. Orang yang mau mengeluarkan sebagian rejekinya untuk disedekahkan kepada orang lain berarti di dalam dirinya ada husnu zhan (berbaik sangka) kepada Allah. Ada keyakinan di dalam dirinya bahwa Allah akan mengganti sedekah yang dikeluarkannya tersebut dengan sesuatu yang lebih baik. Berbeda dengan orang pelit yang menganggap pintu rejeki itu hanya kerja keras dan kikir kepada orang lain. Ia tidak yakin jika ia mengeluarkan sedekah niscaya Allah akan menggantinya yang lebih baik. Dalam sebuah hadist qudsi disebutkan bahwa Allah berfirman, “Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” Apabila orang mau berbaik sangka kepada Allah, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya. Dan jika orang berburuk sangka kepada Allah, prasangka itu akan kembali kepadanya. Karena sedekah bisa menjadi bukti seorang hamba berbaik sangka kepada Allah, maka tidak mengherankan jika Allah juga akan memberikan apa yang lebih baik daripada apa yang disangkanya sehingga sedekah itu tidak akan membuat hartanya berkurang namun justru akan membuat hartanya bertambah. “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”

3. Mensyukuri Nikmat Allah
Harta adalah salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Dan Allah tidak membagi harta kepada semua manusia dengan bagian sama. Ada orang yang mendapatkan bagian yang banyak dan ada yang mendapatkan bagian yang sedikit. Semua itu semata-mata hanya untuk menguji manusia apakah jika ia diberi harta yang banyak akan bersyukur ataukah tidak. Dan apakah jika ia diberi harta sedikit apakah akan bersabar ataukah tidak. Syukur atau yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan terima kasih itu tidak semata-mata diucapkan dengan lisan. Akan tetapi harus disertai keyakinan dan perbuatan nyata. Orang yang mengaku bersyukur namun tidak bisa menggunakan nikmat di jalan Allah berarti dia belum bersungguh-sungguh dalam syukur nikmatnya namun hanya pemanis kata belaka. Allah menjamin bagi orang yang mensyukuri nikmat Allah akan diberikan tambahan nikmat. Dan orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah, maka ia akan mendapatkan azab yang pedih sebagaimana firman Allah: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku). Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7). Ayat di atas menjadi jaminan bahwa orang yang mensyukuri nikmat Allah akan mendapatkan tambahan nikmat tersebut. Tambahan itu bisa berupa nikmat materi ataupun nikmat non materi. Nikmat materi bisa dengan hartanya semakin bertambah, proyeknya lancar, dan sebagainya. Sedangkan tambahan yang bersifat non-materi misalnya hartanya bertambah berkah, hatinya tentram walaupun sedikit hartanya, urusannya dimudahkan oleh Allah, dan sebagainya.

4. Sebab Memperoleh Cinta Allah Dan Cinta Sesama Manusia
Orang dermawan dicintai dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dekat kepada surga, dan jauh dari neraka. Orang yang pelit jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat kepada neraka. Perintah Allah kepada kita untuk bersedekah sudah sangat jelas, baik yang disebutkan dalam Al-Quran maupun hadist qudsi. Pada hakikatnya orang yang bersedekah menjadi wakil Allah dalam mengasihi hamba-hamba-Nya. Keutamaan-keutamaan dan pahala-pahala sedekah sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadist. Karena itu, salah satu langkah jitu untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah adalah dengan cara mengasih sesama manusia. Dan salah satu cara mengasihi sesama manusia adalah dengan bersedekah kepada mereka. Dikisahkan ada seorang sufi yang bermimpi melihat catatan orang-orang yang mencintai Allah. Namun, sayang ternyata ia tidak mendapatkan namanya tercantum di sana. Kenyataan pahit itu tidak membuatnya putus asa. Ia berkata, “Mungkin untuk disebut sebagai orang yang mencintai Allah aku belum pantas. Karena itu, lebih baik aku mencintai sesama manusia saja.” Pada malam yang lain ia kembali bermimpi bisa melihat catatan orang-orang yang mencintai sesama manusia saja.” Pada malam yang lain ia kembali bermimpi bisa melihat catatan orang-orang yang mencintai Allah. Anehnya, ternyata namanya ada barisan paling atas. Ternyata perbuatan cinta dan kasih sayang kepada sesama manusia bisa menjadikan sebab seseorang dicintai oleh Allah. Pantaslah jika rasulullah bersabda, “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua dari kami dan tidak menyayangi orang yang lebih muda daripada kami.” Dalam hadits lain disebutkan, “Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi.” Dalam hadits lain disebutkan, “Kasihilah yang ada di atas bumi niscaya yang ada di atas langit akan mengasihimu.” Selain kecintaan Allah, orang yang suka bersedekah akan mendapatkan kecintaan dari sesama manusia. Sudah menjadi tabiat manusia untuk ingin diperhatikan, dimengerti, dan dibantu. Sedekah adalah salah satu bentuk empati sosial. Orang yang memiliki memberi apa yang dimilikinya kepada orang yang memerlukan. Tidak disangsikan lagi, bahwa setiap orang yang diberi suatu kenikmatan pasti ia akan merasa senang dengan pemberinya. Dengan kita rajin melakukan sedekah, Insya Allah akan menjaga lahir batin kita.

5. Mensucikan Jiwa
Cinta dunia adalah kotoran yang menempel dalam jiwa manusia. Salah satu bentuk cinta dunia adalah mencintai harta yang berlebihan. Dalam surat Al Fajr ayat 20 Allah sudah menyindir kita dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. Dalam ayat yang lain Allah berfirman, Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. (QS Al Humazah: 1-2). Allah juga berfirman, Bermegah-megahan melalaikan kamu, hingga kamu masuk ke liang kubur. (QS At Takasur: 1:2). Sifat bakhil adalah kotoran yang menodai jiwa. Dan kotoran itu harus disucikan. Cara mensucikannya adalah menanam sifat pemurah dengan cara senang bersedekah. Insya Allah dengan rajin sedekah kotoran yang berupa sifat kikir tersebut akan hilang. Dan jika hati dan jiwa sudah bersih, maka kita akan merasa mendapat kelapangan dan kemudahan untuk beribadah kepada Allah.


Manfaat Sedekah Bagi Orang yang Menerima
Tidak diragukan lagi pasti orang yang menerima sedekah akan merasakan manfaat dari sedekah yang diterimanya. Manfaat itu bisa bersifat manfaat lahir dan bisa berupa manfaat batin,

1. Manfaat Lahir
Secara lahir orang yang menerima sedekah akan dicukupkan kebutuhannya dan diringankan beban kesulitan hidupnya. Perut yang tadinya merasa lapar bisa menjadi kenyang karena ada orang yang memberinya sedekah. Biaya sekolah yang berat dan tidak terbayarkan bisa menjadi ringan karena ada orang yang mengulurkan tangan memberi sedekah. Sedekah yang bisa dimanfaatkan dengan produktif bisa mengurangi pengangguran. Betapa banyak orang yang menganggur karena PHK bisa berwiraswasta karena uluran tangan orang yang memberikan sedekah. Bahkan bukan saja bisa mencukupi dirinya sendiri tetapi juga menolong orang lain.

2. Manfaat Batin
Selain manfaat lahir, orang yang mendapatkan sedekah juga mendapatkan manfaat batin. Ia akan merasa terbantu. Akan tumbuh dalam dirinya betapa orang lain memperhatikan dan membantu dirinya. Sedekah yang ia terima bisa menjadi bukti bahwa ia tidak menghadapi segala persoalan ini sendirian. Namun masih banyak saudaranya yang mau berbagi beban derita. Dorongan psikologis ini sangat diperlukan bagi setiap orang.


Manfaat Sedekah Bagi Sosial Masyarakat
Selain orang yang mengeluarkan sedekah dan orang yang mendapatkan sedekah, masyarakat pun akan mendapatkan manfaat yang besar jika sedekah ini tumbuh subur di masyarakat. Di antara manfaat-manfaat tersebut sebagai berikut.

1. Terciptanya Lapangan Kerja
Di masyarakat kita sebenarnya banyak orang yang produktif. Yang menjadi kendala mereka hanyalah permodalan. Untuk menurunkan pinjaman dari Bank kadang ada banyak persyaratan administrasi yang sulit dipenuhi. Misalnya, angunan berupa sertifikat tanah atau BPKB motor. Belum lagi bunga bank yang tidak akan pernah kompromi dengan untung laba usaha nasabahnya. Problem-problem permodalan seperti itu sebenarnya bisa teratasi jika kesadaran orang untuk bersedekah itu tinggi. Andaikata para jutawan dan milyarder di negeri ini mau konsisten menyedekahkan hartanya bagi orang yang membutuhkan, niscaya pengangguran bisa dikurangi. Bagi seorang milyarder uang sebanyak satu sampai lima juta amatlah sedikit. Namun bagi orang yang ketrampilan dan terbentur modal, tentu uang sebesar itu akan sangat membantu. Kalau pada akhirnya orang yang dibantu tersebut sukses dalam usahanya hingga memiliki banyak karyawan bukankah akan tercipta banyak lapangan kerja? Dalam sebuah seminar Bu Pamella pernah menceritakan ketika bisnis keluarganya bangkrut dan jatuh miskin, ada orang yang mau mengulurkan zakat kepada mereka. Dari zakat itu, kemudian dikelola menjadi sebuah toko kelontong kecil yang akhirnya menjadi sebuah swalayan, yang bernama Flora. Pada perkembangan bisnis selanjutnya beliau mendirikan Pamella. Hingga saat ini sudah ada tujuh Pamella swalayan. Tentu ini bisa menjadi bukti nyata betapa sedekah bisa menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan mengentaskan kemiskinan.
2. Mengurangi Angka Kriminal
Salah satu sebab seseorang melakukan perbuatan-perbuatan kriminal adalah karena kemiskinan. Karena perut lapar dan tidak ada yang dimakan, maka orang melakukan perbuatan jahat seperti mencuri, merampok, dan sebagainya. Mungkin perbuatan-perbuatan seperti itu pada awalnya hanya sekedar untuk mengganjal perut. Namun lambat laun bisa menjadi profesi yang sulit untuk ditinggalkan. Jika banyak orang yang rajin menyedekahkan hartanya dan sedekah tersebut bisa terdistribusi dengan baik dan benar, insya Allah kemiskinan bisa dientaskan secara bertahap. Jika kemiskinan bisa dientaskan harapannya tingkat kejahatan yang disebabkan kemiskinan bisa diatasi. Jika tingkat kejahatan bisa diminimalisir maka yang mendapatkan keuntungan adalah masyarakat itu sendiri. Insya Allah di sebuah masyarakat yang penduduknya rajin bersedekah akan kecil angka kriminalnya. Dan di sebuah masyarakat yang penduduknya bakhil maka akan tinggi angka kriminalnya.

3. Memperkuat Tali Ikatan Keluarga dan Masyarakat.
 Kaya dan miskin adalah sunatullah yang tidak bisa diubah lagi. Perbedaan itu diciptakan oleh Allah untuk menguji apakah orang kaya mau bersyukur dan orang miskin mau bersabar ataukah tidak. Apabila ternyata dalam suatu masyarakat orang yang kaya mau mensyukuri nikmat yang salah satunya adalah dengan bersedekah, niscaya akan tercipta hubungan harmonis dalam masyarakat tersebut. Dalam kitab Durratun Nashihin disebutkan bahwa tegaknya dunia itu disebutkan karena empat hal. Pertama, ilmu para ulama. Kedua, keadilan para umara (pemimpin). Ketiga, kedermawanan orang-orang kaya. Keempat, kesabaran orang-orang miskin. Apabila keempat hal ini bisa terealisasi insya Allah akan tercipta keamanan dan ketentraman dalam masyarakat tersebut. Tidak akan terjadi kecemburuan sosial menyebabkan rasa iri dan dengki. Sebenarnya adanya perasaan iri dan dengki itu disebabkan karena tidak adanya tali ikatan yang kuat. Orang yang miskin tidak akan iri kepada orang kaya apabila orang kaya tersebut mau berbagi suka kepadanya. Kecemburuan sosial tidak pernah muncul jika antara si kaya dan si miskin mau saling mengenal, memahami, dan saling membantu. Dengan demikian nyatalah bahwa sedekah bisa memperkuat tali hubungan dalam masyarakat.


Kamis, 30 Oktober 2014

Apa Itu Kaum Dhuafa?

Kaum Dhuafa sendiri adalah disebut juga Orang yang kurang mampu (Orang Miskin / anak yatim piatu) yaitu, kaum yang kurang mampu dari segi ekonomi maupun dari segi fisik. Keimanan adalah motor penggerak manusia untuk mengendalikan semua gerak dan tingkah manusia dalam QS. Al-Anfal (8): 2-4. Keimanan yang berintikan kalimat tauhid, bukanlah kata-kata dan janji-janji yang tanpa makna, tanpa adanya konsekwensi apapun. Akan tetapi, kalimat ini merupakan pintu masuk kedalam bangunan islam yang kemudian membedakan antara muslim dengan non muslim (gairu muslim).

Imam yang sudah merasuk kedalam jiwa yang mendalam diwujudakan dalam semua aspek kehidupan seperti aspek sosial, sebab manusia disamping sebagai makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. Semua harta yang dimiliki oleh seseorang merupakan hasil kerja dengan orang lain, bukan "bersih" dari hasil usahanya sendirian. Oleh karena itu, islam mengajarkan agar peduli terhadap kaum lemah (dhu'afa). Dengan demikian akan terbentuk masyarakat yang sejahtera. Sesuai QS. Al-Hasyr (59): dan Az-Zuhruf (43): 32.

Foto di atas adalah anak yang suka memulung di komplek kami cibereum permai 1, mereka putus sekolah karena tidak adanya biaya untuk mereka bersekolah di tambah mereka sudah tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya sendiri, "buka hati buka mata" jika bukan kita yang membantu ya siapa lagi??? lebih dari 1000 anak di sukabumi nasibnya sama seperti mereka, ayo ulurkan tangan kita untuk mereka agar masa depan mereka cerah, kalau bukan kita yang membantu yaaa siapa lagi?

jika mata dan hati sudah terbuka, jika anda ini ingin membantu mereka bisa melalui rekening kita :

BSM : 123-45-7777-4
BRI : 0092-01-06627-53-4
BJB : 0059002491100

Besar kecilnya tunai yang anda berikan itu sangat berharga bagi Mereka yang Membutuhkan, Semoga Bermanfaat.

Sumber Dari : i-ricxie

Selasa, 28 Oktober 2014

Manfaat Kopi Luwak

Kopi Luwak, siapa sih yang gatau nama kopi itu mungkin seluruh dunia pun sudah tau, ya.... Kopi Luwak adalah kopi terbaik dari indonesia yang sudah mendunia, terkenal karena harumnya dan rasanya yang sangat enak, selain itu juga dengan harga yang sangat melangit kopi luwak belum ada yang menandingi.

Selain kopi luwak enak untuk di konsumsi, kopi luwak juga banyak khasiatnya seperti :

1. Mencegah penyakit saraf
Peminum kopi berkafein cenderung tidak akan mengembangkan penyakit Alzheimer dan Parkinson. Kandungan antioksidan di dalam kopi akan mencegah kerusakan sel yang dihubungkan dengan Parkinson. Sedangkan kafein akan menghambat peradangan di dalam otak, yang kerap dikaitkan dengan Alzheimer.

2. Melindungi gigi
Kopi yang mengandung kafein memiliki kemampuan antibakteri dan antilengket, sehingga dapat menjaga bakteri penyebab lubang menggerogoti lapisan gigi. Minum kopi secangkir setiap hari terbukti dapat mencegah risiko kanker mulut hingga separuhnya. Senyawa yang ditemukan di dalam kopi juga dapat membatasi pertumbuhan sel kanker dan kerusakan DNA

3. Menurunkan risiko kanker payudara
Menjelang masa menopause, wanita yang mengonsumsi 4 cangkir kopi sehari mengalami penurunan risiko kanker payudara sebesar 38 persen, demikian menurut sebuah studi yang dipublikasikan di The Journal of Nutrition. Kopi melepaskan phytoestrogen dan flavonoid yang dapat menahan pertumbuhan tumor. Namun konsumsi kurang dari 4 cangkir tidak akan mendapatkan manfaat ini.

4. Mencegah batu empedu
Batu empedu tumbuh ketika lendir di dalam kantong empedu memerangkap kristal-kristal kolesterol. Xanthine, yang ditemukan di dalam kafein, akan mengurangi lendir dan risiko penyimpanannya. Dua cangkir kopi atau lebih setiap hari akan membantu proses ini.

5. Mencegah diabetes
Orang yang mengonsumsi 3-4 cangkir kopi reguler atau kopi decaf (dengan kadar kafein yang dikurangi) akan menurunkan risiko mengembangkan diabetes tipe II hingga 30 persen. Asam klorogenik dapat membantu mencegah resistensi insulin, yang merupakan pertanda adanya penyakit ini.

Naaaahhh bagai mana masih ragu sama kopi luwak??? untuk orang yang memiliki maag bisa meminum kopi luwak juga, karena kopi luwak asli itu tidak akan memberikan dampak negatif untuk penderita maag malahan memberikan dampak baik karena banyaknya khasiat yang terkandung di dalamnya...
Jika masih bingung untuk mencari kopi luwak bisa "Klik Disini" 100% Asli Sukabumi, Semoga Bermanfaat.

Sumber Dari : Kopi Luwak Nusantara

Senin, 27 Oktober 2014

Manfaat Gula Semut

Penyakit diabetes,,wah kayaknya sebuah penyakit yang cukup berbahaya,,penyebabnya tidak lain adalah karena kadar gula darah yang berlebih,,hal ini bisa terjadi karena terlalu banyak mengkonsumsi gula terlalu banyak..

tapi apakah enak sekarang membuat minuman tanpa gula???

Nah buat anda yang ingin tetap mengkonsumsi gula tapi khawatir terkena diabetes, anda bisa mencoba mengkonsumsi gula semut, gula semut ini dapat menggantikan fungsi gula pasir dan kalori gulanya pun lebih rendah dari gula pasir.Gula semut terbuat dari bahan baku yang sama dengan gula jawa, yaitu air nira kelapa yang disadap. Hanya saja bentuknya yang berbeda, gula jawa berbentuk bongkahan, sedangkan gula senut ini berbentuk kristal-kristal halus. Untuk urusan rasa, gula jawa dan gula semut rasanya hampir saja, yang membedakan gula semut tersedia dengan bermacam-macam rasa(manis biasa, jahe,kunyit,temu lawak dll).

Sebagai pengganti gula pasir, gula semut sangat nikmat bila dipakai sebagai pemanis minuman teh dan kopi. Sebagai penyuka eksplorasi dalam cita rasa, coba anda kombinasikan rasa pahit teh hitam dengan rasa manis gula semut dalam secangkir minuma teh panas. Rasa karamel dari gula semut langsung menyergap penciuman. Di lidahpun kekentalan rasa terasa unik bernuansa tradisi. Ini mungkin bisa jadi akan menggugagah kenangan terhadap kulinari nenek moyang kala gula pasir belum se-merakyat seperti sekarang. Sekaran sudah tersedia banyak sekali tawaran rasa kopi, coba anda padukan kopi tubruk yang kental dan hitam dengan rasa manis dari gula semut. Anda pasti akan mendpatkan cita rasa yang sangat luar biasa. Apalagi jika dinikmati dengan camilan dan di temani oleh pasangan anda, pasti akan terasa jauh lebih nikmat.

Sebagai penguat rasa dan penguat khasiat minuman kesehatan, gula semut di buat dengan tambahan empon-empon(sari-sari) jahe, kencur, kunir, kunir putih, lengkuas, temu kunci, temu lawak. Minuman ini tidak hanya sangat bermanfaat terhadap kebugaran tubuh tapi juga ramah di lidah. Anda tidak perlu lagi meminum jamu yang begitu pahit.

Nah berikut ini saya tuliskan manfaat-manfaat dari gula semut:

"Gula semut + Jahe"
- Mencegah masuk angin.
- Perut kembung.
- Flu, batuk dan sebagai penghangat badan.

"Gula semut + kencur"
- Mencegah dan mengurangi ngeres / pegel linu.
- Batuk, encok.
- Disentri dan sakit perut.

"Gula semut + lengkuas"
- Meningkatkan vitalitas.
- Mengatasi demam.
- Reumatik.
- Sakit kepala.
- Radang tenggorokan dan memperbaiki pencernaan.

"Gula semut + Temu lawak"
- Melancarkan peredaran darah.
- Mencegah dan menurunkan panas dalam, asam urat, kolesterol, sembelit dan mengeringkan luka.
- Memperbaiki fungsi hati.

Gula semut juga bisa di gunakan untuk mengobati dehidrasi dan kelelahan, caranya adalah, larutkan gula semut dengan air putih atau dengan air kelapa, kemudian dicampu dengan es batu secukupnya. Setelah anda meminumnya mak rasa haus dan lelah anda akan segera hilang.

Selain berfungsi sebagai pemanis biasa, gula semut digunakan dalam industri roti ( bakery), kue- kue, kecap, sirup, makanan bayi dan makanan lainnya. Yang dimanfaatkan bukan hanya rasa manisnya tapi juga warna coklat dan coklat kehitamannya yang cantik untuk memperkuat tampilan fisik makanan.Dan gula semut sudah mencapai pasaran expor.

Nah sekarang kenapa anda harus ragu untuk mengkonsumsi gula semut, mari kita hidup sehat dengan mengkonsumsi gula semut.

Sumber Dari : Keruyuksemut